Rabu, 18 Oktober 2017

Motivasi Dan Emosi Dalam Mencapai Goal

Ketika masuk di universitas swasta orang tua selalu membandingkan-bandingkan saya dengan kakak karena mereka lulus di universitas negeri ternama. Semenjak itu saya memiliki tujuan selama kuliah saya harus lebih baik dari kakak dengan cara sebisa mungkin lulus dengan tepat waktu dan mendapatkan ipk 3.

Emosi menurut Feldaman (2011) emosi adalah perasaan yang umumnya memiliki unsur psikologis dan kognitif dan berpengaruh pada perilaku individu. sedangkan menurut Djohan (2009) emosi adalah salah satu aspek perilaku yang paling meresap dalam eksistensi manusia dan berhubungan langsung dengan setiap aspek perilaku-aksi, persepsi, memori, belajar, dan termasuk juga dalam membuat keputusan.

Nilai Emotional Quotient (EQ) dalam konteks kesadaran emosi adalah 57% sehingga dapat dikatakan keasadaran emosi saya masih dalam rata-rata, nilai dalam konteks pengendalian emosi adalah 51 % dapat dikatakan pengendalian emosi saya masih dalam rata-rata, sedangkan nilai dalam konteks kesadaran emosi orang lain adalah 53% sehingga kesadaran tentang emosi orang lain masih rata-rata. Hasil personality type test (D-I-S-C) yang paling kuat adalah tipe compilence sehingga dalam diri saya dalam bekerja mementingkan kualitas dan akurasi, tetapi takut akan kritik dan salah serta kadang sering mengisolasikan diri mereka. Sedangkan yang paling lemah adalah stedinness sehingga saya kurang dalam kerja sama.

 Dalam mencapai tujuan tersebut banyak masalah yang untuk mencapainya yaitu dalam diri saya masih malas untuk mengerjakan tugas sehingga banyak tugas di kerjakan dengan tergesa-gesa dan tidak maksimal. Saya juga masih takut untuk bertanya kepada dosen ketika tidak mengerti tentang materi yang tidak dimengerti.

Dapat disimpulkan bahwa emosi sangat penting untuk dapat mencapai tujuan dari emosi tersebut kita dapat mengerti emosi kita apa yang kurang dan mana yang menonjol atau yang paling kuat sehingga dengan emosi yang paling kuat tersebut kita dapat menjadikannya sebagai potensi dalam diri kita untuk mencapai tujuan.


Daftar pustaka
Feldman, R. S. (2011). Understanding Psychology 10th  edition. New York, NY: McGraw-Hill

Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarya, Indonesia. Best Publisher




Rabu, 11 Oktober 2017

Interpersonal Skills

Hubungan Interpersonal skills dengan Emotional Intelligence (EQ)
Karyawan yang memiliki interpersonal skill yang baik pasti memiliki Emotional Intelligence yang tinggi sehingga dengan kecerdasan emosional yang tinggi karyawan dapat memaknakan hubungan interpersonal yang nyaman karena mampu untuk mengatasi ketegangan emosi, lebih peka terhadap lingkungan kerja, dan memahami emosi diri sendiri maupun orang lain (National Safety Council, 2004:4-6). Hasil studi yang dilakukan Sunindijo dan Zou (2013) bahwa Emotional Intelligence, terutama dimensi Self-management, Social Awarness, dan Relationship Management  merupakan penerapan Intrerpersonal skill yang efektif .

Hubungan interpersonal skills dengan OCB
Karyawan yang memiliki OCB yang baik mereka akan membantu organisasi dengan sukarela sehingga karyawan harus memiliki komunikasi yang baik dan nyaman sesama rekan kerja maka dapat dikatan jika memiliki intrapersonal skills yang baik maka OCB nya juga baik

Hubungan Interpersonal Skills dengan employee engagement
Interpersonal skill dapat meningkatkan employee engagement karena karyawan yang memiliki hubungan atau komunikasi yang baik dengan rekan kerja dan atasan akan mendapatkan kepuasan dalam bekerja karena karyawan tersebut dapat dinilai performanya apakah baik atau tidak serta jika karyawan tersebut mendapatkan kesusahan rekan kerjanya dapat membantunya

 Refrensi

Sunindijo, R. Y., & Zou, P. X. W. (2013). The Role of Emotional Intelligence, Interpersonal Skill, and Tranformational Leadership on Improving Construction Safety. Australasian Journal Of Contruction Economic and Building, 13(3), 97-113


DCarniegTN. (2013, March 19). Manager With Interpersonal Skill Boost Employee Engagement. Retrived from http://www.dalecarnegietn.com/good-managers-boost-employee-engagement/

Rabu, 04 Oktober 2017

Organizational Citizenship Behavior


Didalam suatu perusahaan karyawan diminta dapat untuk mengontrol emosi dan moodnya sehingga tugas dari Human Resorce adalah memberikan pelatihan terkait control emosi. OCB juga bisa sebagai memdiasi emosi dan suasasna hati. OCB juga dapat berhubungan dengan afeksi positif dari karyawan. Peneliti membagi OCB menjadi dua yaitu, OCB untuk individu (OCB-Is) dan OCB untuk organisasi (OCB-Os); (Williams & Anderson, 1991). Kedua bentuk OCB ini berbeda (Williams & Anderson, 1991) dan memiliki atessenden yang berbeda (McNeely & Meglino, 1994). Sebagai contoh, Lepine et al (2002) menemuka bahwa Counsciencetiousness memiliki hubungan yang kuat kepada (OCB-Is) daripada (OCB-Os).  OCB-Is juga bisa disebut alturisme atau perilaku menolong, dalam literature (Organ, 1988; Podsakoff et al., 2000; Podsakoff et al., 1990). Contoh dari OCB-Is adalah membantu karyawan lain untuk mengambil tugas-tugas  tambahan yang bermanfaat bagi rekan kerja

Penelitian dari Glomb et al. (2011) memriksa hubungan dari OCB-Is dengan afeksi positif, dengan alasan bahwa karyawan dapat telibat OCB-Is untuk mengatur suasana hati mereka. Thompson et al. (1980) bependapat bahwa karyawan yang terlibat dalam OCB-Is menciptakan rasa tanggung jawab dan rasa ingin membantu orang lain, memberikan karyawan untuk dapat mengontrol situasi dalam rangka meningkatkan suasana hati mereka, mengarahkan perhatian dari efektifitas negatif mereka bukan focus perhatian mereka ke orang lain.

Menurut Fredickson (2001) afaeksi positif dapat menangkal afeksi negatif, afeksi negatif adalah penyebab dari masalah keshatan.(Chida & Hamer, 2008; Kubzansky & Kawachi, 2000; Fredrickson, 2001)menunjukan bahwa afeksi positif membantu meringankan efek berbahaya dari afeksi negatif. Misalnya , Fredrickson dan Levenson (1988) menunjukan efek berbahaya dari afeksi negatif adalah kesehatan jantung yang lemah yang diakibatkan karena kurangnya kesenangan dan rasa sedih. Dapat di simpulkan bahwa afeksi positif pada karyawan dapat meningkatkan kesehatan
.
Afeksi positif juga dapat meningkatkan kepuasan hidup karyawan. Lyubormirsky et al (2005) berpendapat bahwa individu yang memiliki afeksi positif lebih memiliki banyak waktu untuk mengejar tujuan-tujuan baru ketika mengalami afeksi positif. sehingga mereka dapat mengalami kepuasan hidup yang lebih tinggi

Fredrickson (2001) berpendapat bahwa afeksi positif dapat memungkinkan individu untuk dapat mengelola ancaman di masa depan, serta meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan. Sementara itu Shirom (2003) berpendapat individu yang memiliki pengalaman positif lebih dapat melindungi karyawan dari burnout dengan memungkinkan mereka untuk menghasilkan sumber daya yang berharga. Sehingga afeksi positif dapat menurunkan tingkat burnout pada karyawan
Hasil dari penelitian dilakukan oleh Baranik dan Eby (2016) bahwa OCB-Is berhubungan positif dengan afeksi positif. sehingga dapat diartikan bahwa Jika OCB-Is pada karyawan tinggi berarti afeksi positif pada karyawan juga tinggi serta kesehatan, kepuasan hidup pun juga tinggi dan menurnya tingkat Burnout pada karyawan.