Rabu, 13 Desember 2017

awal dari kesuksesan

Paradigma Awal Dari Kesuksesan
Bahwa untuk bisa menjadi sukses butuh namanya kreasi atau kreativitas. Kreatifitas di dorong oleh namanya passion atau gairah contohnya ketika kita di berikan pekerjaan yang sama sekali bukan bidang yang kita inginkan maka tidak mungkin kita langsung bisa mengerjakannya. Kretifitas hadir ketika pekerjaan yang sama sekali bukan bidang kita sebagai suatu ancaman tetapi menjadikan kita bersemangat atau bergairah. passion dan kreatifitas hadir karena ada yang namanya motivasi. Tanpa adanya motivasi, passion dan kretifitas tidak akan berjalan seperti contoh yang sudah jelaskan ketika kita bekerja yang bukan di bidang kita motivasi kita adalah belajar bidang tersebut dengan cara mengikuti komunitas pekerja dari bidang yang sama.

Seperti kita tahu bahwa kecerdasan emosional (EQ) berkontribusi dengan performa pekerjaan yaitu ketika karyawan dapat memelihara hubungan yang baik di tempat kerja dan dapat mengatur emosi mereka sehingga memungkinkan karyawan untuk dapat bekerja lebih efektif di bawah tekanan dan karyawan dapat menyelesaikan tugas-tugas tugas mereka dengan baik. Dalam materi yang diberikan oleh pak Deril Fahlevi menyebutkan bahwa kecerdasan emosi memang dibutuhkan dalam bekerja tetapi beliau mengatakan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) yang paling penting dalam bekerja karena ketika karyawan yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi memungkinkan karyawan untuk dapat jujur dalam bekerja dan cenderung tidak melakukan tindakan yang menyimpang saat bekerja.



Rabu, 29 November 2017

Analisi Film Door to Door

Film ini menceritakan Bill Porter yang terkena penyakit cerebral palsy serta berkerja sebagai salesman di perusahaan yang bernama Watkins dia menawarkan produk-produknya dari rumah ke rumah. Dia menjadi terkenal ketika ada surat kabar yang menulis artikel tentang dirinya.

Dalam bekerja Bill Porter memiliki profesionalisme terlihat ketika Bill Porter menolak dengan tegas uang yang diberikan pelanggannya karena pelanggannya mengirakan bahwa Bill Porter merupakan badan amal yang meminta sumbangan padahal ia hanya ingin menawarkan produk kepada pelanggannya.

Selain profesionalisme hubungan antara psikologi capital dengan organizational citizenship behavior (OCB). OCB dibutuhkan untuk meningkatkan kesuksesan bisnis pada perusahan, perusahaan yang memiliki karyawan dengan OCB yang tinggi dapat meningkatkan efektifitas pada organisasi, serta meningkatkan inovasi pada karyawan.  definisi dari OCB menurut Organ adalah perilaku individu yang tidak secara eksplisit dikaitkan dengan sistem upah formal untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari suatu organaisasi (Organ, 1988; Organ, Podasakoff, & MacKanzie, 2006).

Psikologi capital sangat erat kaitannya dengan OCB dikarenakan karyawan yang memiliki OCB yang tinggi menunjukan kepercayaan diri (self-efficacy), optimisme, tekun mencapai tujuan (hope), dan dapat bertahan ketika memiliki masalah (resilience) yang merupakan komponen dari PsyCap.

dalam film ini ditunjukan bahwa Bill Porter  memiliki komponen dari PsyCap yang dimana ketika dia ditolak karena ada cacat pada fisiknya dengan percaya diri Bill Porter menantang HRDnya untuk memberikan tugas yang sulit diselesaikan (self-Eficacy), dalam bekerja dia slalu optimis walaupun dia memiliki kekurangan pada fisiknya walaupun ia bahwa akan ditolak (optimisme), ketika bekerja ibunya memberikan nasihat melalui bekal makan siangnya bahwa ketika bekerja harus sabar dan tekun hal itu ditunjukan ketika ia tekun menghadapi pelanggan yang selalu menolaknya dan kembali lagi dengan cara yang lain (Hope), ketika bekerja Bill porter dapat bertahan ketika mendapatkan masalah terlihat ketika ia bersitegang  dengan assisistenya bahwa sudah seharusnya dia pensiun karena usia sudah tidak memungkinkan akhirnya dia membutiknannya walaupun sudah tua dia masih dapat menjual banyak produk.

Daftar Pustaka

Cintantya, H., & Salendu, A. (2017). The Relationship between Psychological Capital and Organizational Citizenship Behavior among Employees in Bank Syariah X. UI Proceedings on Social Science and Humanities1.

Door to Door (2002)


Rabu, 18 Oktober 2017

Motivasi Dan Emosi Dalam Mencapai Goal

Ketika masuk di universitas swasta orang tua selalu membandingkan-bandingkan saya dengan kakak karena mereka lulus di universitas negeri ternama. Semenjak itu saya memiliki tujuan selama kuliah saya harus lebih baik dari kakak dengan cara sebisa mungkin lulus dengan tepat waktu dan mendapatkan ipk 3.

Emosi menurut Feldaman (2011) emosi adalah perasaan yang umumnya memiliki unsur psikologis dan kognitif dan berpengaruh pada perilaku individu. sedangkan menurut Djohan (2009) emosi adalah salah satu aspek perilaku yang paling meresap dalam eksistensi manusia dan berhubungan langsung dengan setiap aspek perilaku-aksi, persepsi, memori, belajar, dan termasuk juga dalam membuat keputusan.

Nilai Emotional Quotient (EQ) dalam konteks kesadaran emosi adalah 57% sehingga dapat dikatakan keasadaran emosi saya masih dalam rata-rata, nilai dalam konteks pengendalian emosi adalah 51 % dapat dikatakan pengendalian emosi saya masih dalam rata-rata, sedangkan nilai dalam konteks kesadaran emosi orang lain adalah 53% sehingga kesadaran tentang emosi orang lain masih rata-rata. Hasil personality type test (D-I-S-C) yang paling kuat adalah tipe compilence sehingga dalam diri saya dalam bekerja mementingkan kualitas dan akurasi, tetapi takut akan kritik dan salah serta kadang sering mengisolasikan diri mereka. Sedangkan yang paling lemah adalah stedinness sehingga saya kurang dalam kerja sama.

 Dalam mencapai tujuan tersebut banyak masalah yang untuk mencapainya yaitu dalam diri saya masih malas untuk mengerjakan tugas sehingga banyak tugas di kerjakan dengan tergesa-gesa dan tidak maksimal. Saya juga masih takut untuk bertanya kepada dosen ketika tidak mengerti tentang materi yang tidak dimengerti.

Dapat disimpulkan bahwa emosi sangat penting untuk dapat mencapai tujuan dari emosi tersebut kita dapat mengerti emosi kita apa yang kurang dan mana yang menonjol atau yang paling kuat sehingga dengan emosi yang paling kuat tersebut kita dapat menjadikannya sebagai potensi dalam diri kita untuk mencapai tujuan.


Daftar pustaka
Feldman, R. S. (2011). Understanding Psychology 10th  edition. New York, NY: McGraw-Hill

Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarya, Indonesia. Best Publisher




Rabu, 11 Oktober 2017

Interpersonal Skills

Hubungan Interpersonal skills dengan Emotional Intelligence (EQ)
Karyawan yang memiliki interpersonal skill yang baik pasti memiliki Emotional Intelligence yang tinggi sehingga dengan kecerdasan emosional yang tinggi karyawan dapat memaknakan hubungan interpersonal yang nyaman karena mampu untuk mengatasi ketegangan emosi, lebih peka terhadap lingkungan kerja, dan memahami emosi diri sendiri maupun orang lain (National Safety Council, 2004:4-6). Hasil studi yang dilakukan Sunindijo dan Zou (2013) bahwa Emotional Intelligence, terutama dimensi Self-management, Social Awarness, dan Relationship Management  merupakan penerapan Intrerpersonal skill yang efektif .

Hubungan interpersonal skills dengan OCB
Karyawan yang memiliki OCB yang baik mereka akan membantu organisasi dengan sukarela sehingga karyawan harus memiliki komunikasi yang baik dan nyaman sesama rekan kerja maka dapat dikatan jika memiliki intrapersonal skills yang baik maka OCB nya juga baik

Hubungan Interpersonal Skills dengan employee engagement
Interpersonal skill dapat meningkatkan employee engagement karena karyawan yang memiliki hubungan atau komunikasi yang baik dengan rekan kerja dan atasan akan mendapatkan kepuasan dalam bekerja karena karyawan tersebut dapat dinilai performanya apakah baik atau tidak serta jika karyawan tersebut mendapatkan kesusahan rekan kerjanya dapat membantunya

 Refrensi

Sunindijo, R. Y., & Zou, P. X. W. (2013). The Role of Emotional Intelligence, Interpersonal Skill, and Tranformational Leadership on Improving Construction Safety. Australasian Journal Of Contruction Economic and Building, 13(3), 97-113


DCarniegTN. (2013, March 19). Manager With Interpersonal Skill Boost Employee Engagement. Retrived from http://www.dalecarnegietn.com/good-managers-boost-employee-engagement/

Rabu, 04 Oktober 2017

Organizational Citizenship Behavior


Didalam suatu perusahaan karyawan diminta dapat untuk mengontrol emosi dan moodnya sehingga tugas dari Human Resorce adalah memberikan pelatihan terkait control emosi. OCB juga bisa sebagai memdiasi emosi dan suasasna hati. OCB juga dapat berhubungan dengan afeksi positif dari karyawan. Peneliti membagi OCB menjadi dua yaitu, OCB untuk individu (OCB-Is) dan OCB untuk organisasi (OCB-Os); (Williams & Anderson, 1991). Kedua bentuk OCB ini berbeda (Williams & Anderson, 1991) dan memiliki atessenden yang berbeda (McNeely & Meglino, 1994). Sebagai contoh, Lepine et al (2002) menemuka bahwa Counsciencetiousness memiliki hubungan yang kuat kepada (OCB-Is) daripada (OCB-Os).  OCB-Is juga bisa disebut alturisme atau perilaku menolong, dalam literature (Organ, 1988; Podsakoff et al., 2000; Podsakoff et al., 1990). Contoh dari OCB-Is adalah membantu karyawan lain untuk mengambil tugas-tugas  tambahan yang bermanfaat bagi rekan kerja

Penelitian dari Glomb et al. (2011) memriksa hubungan dari OCB-Is dengan afeksi positif, dengan alasan bahwa karyawan dapat telibat OCB-Is untuk mengatur suasana hati mereka. Thompson et al. (1980) bependapat bahwa karyawan yang terlibat dalam OCB-Is menciptakan rasa tanggung jawab dan rasa ingin membantu orang lain, memberikan karyawan untuk dapat mengontrol situasi dalam rangka meningkatkan suasana hati mereka, mengarahkan perhatian dari efektifitas negatif mereka bukan focus perhatian mereka ke orang lain.

Menurut Fredickson (2001) afaeksi positif dapat menangkal afeksi negatif, afeksi negatif adalah penyebab dari masalah keshatan.(Chida & Hamer, 2008; Kubzansky & Kawachi, 2000; Fredrickson, 2001)menunjukan bahwa afeksi positif membantu meringankan efek berbahaya dari afeksi negatif. Misalnya , Fredrickson dan Levenson (1988) menunjukan efek berbahaya dari afeksi negatif adalah kesehatan jantung yang lemah yang diakibatkan karena kurangnya kesenangan dan rasa sedih. Dapat di simpulkan bahwa afeksi positif pada karyawan dapat meningkatkan kesehatan
.
Afeksi positif juga dapat meningkatkan kepuasan hidup karyawan. Lyubormirsky et al (2005) berpendapat bahwa individu yang memiliki afeksi positif lebih memiliki banyak waktu untuk mengejar tujuan-tujuan baru ketika mengalami afeksi positif. sehingga mereka dapat mengalami kepuasan hidup yang lebih tinggi

Fredrickson (2001) berpendapat bahwa afeksi positif dapat memungkinkan individu untuk dapat mengelola ancaman di masa depan, serta meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan. Sementara itu Shirom (2003) berpendapat individu yang memiliki pengalaman positif lebih dapat melindungi karyawan dari burnout dengan memungkinkan mereka untuk menghasilkan sumber daya yang berharga. Sehingga afeksi positif dapat menurunkan tingkat burnout pada karyawan
Hasil dari penelitian dilakukan oleh Baranik dan Eby (2016) bahwa OCB-Is berhubungan positif dengan afeksi positif. sehingga dapat diartikan bahwa Jika OCB-Is pada karyawan tinggi berarti afeksi positif pada karyawan juga tinggi serta kesehatan, kepuasan hidup pun juga tinggi dan menurnya tingkat Burnout pada karyawan.


Rabu, 27 September 2017

Hubungan Antara Psychology Capital dengan Employee Engagement


Banyak perusahaan dan peneliti mulai mempelajari Hubungan antara Psychologicy Capital (PsyCap) dengan Employee Engagement agar kedepannya perusahaan tersebut dapat menerapkan PsyCap untuk meningkatka kualitas dan rasa saling bantu-membantu sesama karyawan.

Psychological capital merupakan bagian dari psikologi positif atau bisa didefinisikan sebagai individu yang memiliki psikologi positif serta karakter mereka berkembang oleh hope, optimism, resiliency, dan self-efficacy (Luthan et al, 2007).

Dapat diartikan Psychological Capital memiliki 4 aspek, yaitu:
  • ·       Hope adalah kemampuan untuk mengambil langkah yang mengarahkannya kepada tujuan yang di inginkan dan memotivasi diri untuk dapat mengambil langkah tersebut (Syneder, 2002)
  • ·       Optimism adalah kemampuan karakter kognitif atau persaan yang kuat tentang harapan yang akan terjadi di masa depan dan berpikir secara positif (Peterson, 2000)
  • ·       Resilience adalah kemampuan untuk mengubah perilaku untuk mengatasi ancaman dan resiko atau kegagalan, diperkuat oleh faktor perlindungan individu dan lingkungan, ketahanan diperoleh melalalui adaptasi sederhana (Luthans, 2002)
  • ·       Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang tentang kemampuanya untuk mengelola sumber kognif, motivasi dan tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu dengan sukses (Luthans & Church, 2002)


Work Engagement berfokus pada individu yang berhubungan dengan peran pekerjaan meraka serta melibatkan kognisi, fisik dan emosional dalam peran perkerjaaannya
Work Engagement memiliki 3 aspek, yaitu:
  • ·        Vigour adalah individu yang memiliki ketahanan mental yang tinggi serta memiliki kemauan untuk mengerahkan segala usaha, tekun dalam menghadapi kesulitan saat bekerja dan mau untuk membantu pekerjaan rekan kerja (Schaufeli et al., 2002)
  • ·       Dedication adalah keterlibatan yang kuat antara  karyawan dengan pekerjaannya serta merasa bahwa karyawan tersebut berharga, memiliki kebanggaan, dan memiliki antusiasme yang melibatkan pekerjaannya (Schaufeli et al., 2002)
  • ·       Absorbtion karyawan tersebut suka dengan pekerjaannya sampai lupa dengan waktu dan sulit melepaskan diri dari pekerjaannya (Schaufeli et al., 2002)


Hubungan antara Pschology Capital dengan Work Engagement adalah PsyCap dapat meningkatkan Work Engagement serta meningkatkan kepuasan kerja dan kesejahteraan akibat hubungan positif antara PsyCap dengan Work Engagement dapat meningkatkan perkembangan sumber daya manusia di suatu perusahaan. sehingga Dapat di simpulkan bahwa dengan meningkatnya PsyCap dapat meningkatkan motivasi dan ketetekunan untuk mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan bahkan saat masalah muncul dihadapanya dan memiliki pandangan postif akan masa depan yang akan dihadapinya  suatu saat nanti.

Refrensi

Tabaziba, K.R. (2015). Pschological Capital and Work Engagement: An Investigation Into Mediating Effect of Mindfullness. (Doctoral thesis, Universitiy of Cape Town, 2015). Retrived From https://open.uct.ac.za/bitstream/handle/11427/13793/thesis_com_2015_tabaziba_kr.pdf?sequence=1

Rabu, 20 September 2017

Pentingnya Psychological capital Di Sebuah Perusahaan


Setiap perusahaan pasti memiliki suatu permasalahan yang berbeda-beda seperti masalah keuangan, menajement, dan pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia). Permasalahan yang sering terjadi di suatu perusahaan yaitu masalah pada pengelolaan sumber daya manusianya salah satunya adalah bagaimana caranya agar karyawan dapat bekerja secara efisien, dan membuat karyawan tersebut menjadi lebih positif maka  peran dari psikologi capital adalah  membantu karyawan agar dapat bekerja secara efisien serta dapat meningkatkan nilai positif dari karyawan tersebut.
Psikologi kaipital memiliki 4 aspek yang ada pada diri manusia, yaitu:
  1.  Hope: focus tehadap suatu tujuan, dan memfokuskan kembali jalan untuk dapat mencapi tujuan tersebut
  2.  Optimism: memiliki orientasi positif untuk berprestasi
  3. Self-efficacy: memiliki kepercayaan diri untuk mendapatkan dan menyelesaikan secara baik tugas yang menantang
  4. Resilience: mampu untuk tahan dan dapat mengatasi permasalahan atau kesulitan pada saat menjalankan tugas
Masalah lain yang dihadapi suatu perusahaan adalah tidak menguasai cara untuk  menganalisa tingkah laku setiap karyawan sehingga depskripsi kerja tidak mencapai pada tujuan organisasi sehingga pentingnya Organizational Citizenship Behavior (OCB). Definisi dari Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah ilmu yang mempelajari dampak yang dimiliki individu, kelompok, dan struktur perilaku dalam suatu organisasi. Organizational Citizenship Behavior (OCB) memiliki lima dimensi yaitu altruism, civic virtue, sportsmanship, generalize compliance, dan cortesy (Organ, 1988; Podsakoff, MacKenzie, Paine, & Bachrach, 2000). Sehingga perusahaan yang menguasai OCB mereka dapat dampak yang ditimbulkan dari kepribadian setiap karyawan terhadap struktur organisasi.
Seiring dengan ketatnya persaingan membuat karyawan menghilangkan rasa kehangatan sesama karyawan sehingga Emotional intelligence (EI) berperan sangat penting disuatu perusahaan agar karyawan dapat mengontrol agar tidak mengangau struktur organisasi yang sedang berjalan. Menurut Goleman (1995) EI adalah cara untuk mengetahui perasaan apa yang anda rasakan serta mengontrol perilaku tersebut tanpa membuat anda tenggelam, serta memotivasi anda untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan kreatif serta merasakan apa yang orang lain rasakan. karyawan yang memiliki EI yang tinggi mendapatkan peran yang lebih sehingga dapat memuaskan para konsumen (Abraham, 2003).
Kenapa psikologi capital menjadi suatu hal yang penting bagi perusahaan ? karena psikologi capital, OCB, dan EI memiliki hubungan yang sangat dekat. sehingga Dapat dikatakan bahwa psikologi capital sangat terkait erat  dengan EI dan dapat mempengaruhi OCB. Karyawan yang memiliki psikologi capital yang tinggi cenderung memiliki OCB. Penelitian George and Brief (1992) menemukan bahwa karyawan yang memiliki psikologi positif akan langsung untuk membantu rekan kerja dan menyelesaikannya bersama-sama. EI sendiri memiliki hubungan yang signifikan dengan psikologi capital dan OCB. Penelitian Staw, Sutton, dan Pelled (1994) dan Eljadi (2007) menemukan bahwa karyawan yang cerdas secara emosional serta memiliki stabilitas psikologis bukan hanya memahami perasaan diri sendiri tetapi memahami perasaan orang lain.

Refresensi
Robbins, S.P., Judge, T.A. (2013). Organizational Behavior. (15th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson

Pradhan, R.K., Jena, L.K., & Bhattacharya, P. (2016). Impact Psychologycal Capitan On Organizational Citizenship Behavior: Moderating Role of Emotional Intellegence. Cogent Bussines & management, 3(1), 1-16



Selasa, 12 September 2017

Peran psikologi dalam bisnis dan organisasi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang


Ilmu psikologi merupakan ilmu tertua yang dimana ilmu psikologi merupakan ilmu yang mempelajari jiwa dan kepribadian manusia sehingga sangat erat kaitanya dalam bisnis dan organisasi yang menjadikan manusia sebagai sumber dayanya. Sebelum tahun 1900-an industry dan perusahan tidak melihat bahwa psikologi penting dalam suatu perusahaan atau industry. Pada tahun 1908 seorang ahli psikologi yang bernama Wallter Dill Scott membuat suatu buku yang berjudut psychology of advertising buku ini betujuan agar meningkatkan efisiensi manusia dengan taktik imitasi, kompetensi dan loyalitas. Tidak hanya hanya Walter Dill Scott saja pada tahun 1913 Hugo Munstenberg membuat buku yang berjudul Psychology and Industrial Efficiency dalam buku tersebut menekankan bahwa setiap individu memiliki karakteristik berbeda pada suatu organisasi serta pengaruh budaya dan social pada suatu organisasi. Sehingga dapat disumpulkan bahwa peran psikologi pada bisnis dan organisasi melihat perilaku manusia dengan menghubungkan bidang ekonomi, manajemen , dan bisnis itu sendiri

Pasca terjadinya perang dunia ke-2 industri dan bisnis meningkat tajam dan pada saat itu peran psikologi dalam bisnis yaitu bagaimana industri atau perusahaan berusaha meningkatkan mutu dari karyawannya sehingga mereka dapat meningkatkan produktifitas pada perusahaan contohnya perusahaan mencoba apakah benar dengan menaikan gaji karyawan dapat meningkatkan produtifitas dari karyawan itu sendiri serta perusahaan melihat bagaimana sikap karyawan agar konsumen puas.

Pada saat ini peran psikologi pada bisnis yaitu bukan lagi mencari cara untuk dapat meningkatkan produktifitas pada karyawan tetapi perusahaan mencoba mencari cara agar perusahaan tersebut dapat bertahan dengan cara melihat perilaku atau kebutuhan dari konsumen serta perusahaan mencoba agar bukan hanya bermanfaat bagi konsumen saja tetapi bermanfaat bagi masyaraka di sekitar tempat lingkungan perusahaan.

Semakin maju teknologi memaksa kita terus untuk memperbarui pengetahuan kita mengenai teknologi tersebut. Semakin majunya teknologi berdampak kepada perusahaan dan industry tersebut contohnya industry dan perusahaan mulai mempertimbangkan penggunaan robot sebagai penganti parakaryawan. Dari masalah tersebut peran psikologi bagi bisnis dan industry adalah menyiapkan mental serta adaptasi bagi karyawan terhadap kemajuan teknologi tersebut.
Daftar pustaka


Ftr. (2017, Maret 15). Psikologi Industri dan Organisasi-Perkembangan Teori, Peran, dan Penjelasan. Retrived From http://dosenpsikologi.com/psikologi-industri-dan-organisasi