Rabu, 27 September 2017

Hubungan Antara Psychology Capital dengan Employee Engagement


Banyak perusahaan dan peneliti mulai mempelajari Hubungan antara Psychologicy Capital (PsyCap) dengan Employee Engagement agar kedepannya perusahaan tersebut dapat menerapkan PsyCap untuk meningkatka kualitas dan rasa saling bantu-membantu sesama karyawan.

Psychological capital merupakan bagian dari psikologi positif atau bisa didefinisikan sebagai individu yang memiliki psikologi positif serta karakter mereka berkembang oleh hope, optimism, resiliency, dan self-efficacy (Luthan et al, 2007).

Dapat diartikan Psychological Capital memiliki 4 aspek, yaitu:
  • ·       Hope adalah kemampuan untuk mengambil langkah yang mengarahkannya kepada tujuan yang di inginkan dan memotivasi diri untuk dapat mengambil langkah tersebut (Syneder, 2002)
  • ·       Optimism adalah kemampuan karakter kognitif atau persaan yang kuat tentang harapan yang akan terjadi di masa depan dan berpikir secara positif (Peterson, 2000)
  • ·       Resilience adalah kemampuan untuk mengubah perilaku untuk mengatasi ancaman dan resiko atau kegagalan, diperkuat oleh faktor perlindungan individu dan lingkungan, ketahanan diperoleh melalalui adaptasi sederhana (Luthans, 2002)
  • ·       Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang tentang kemampuanya untuk mengelola sumber kognif, motivasi dan tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu dengan sukses (Luthans & Church, 2002)


Work Engagement berfokus pada individu yang berhubungan dengan peran pekerjaan meraka serta melibatkan kognisi, fisik dan emosional dalam peran perkerjaaannya
Work Engagement memiliki 3 aspek, yaitu:
  • ·        Vigour adalah individu yang memiliki ketahanan mental yang tinggi serta memiliki kemauan untuk mengerahkan segala usaha, tekun dalam menghadapi kesulitan saat bekerja dan mau untuk membantu pekerjaan rekan kerja (Schaufeli et al., 2002)
  • ·       Dedication adalah keterlibatan yang kuat antara  karyawan dengan pekerjaannya serta merasa bahwa karyawan tersebut berharga, memiliki kebanggaan, dan memiliki antusiasme yang melibatkan pekerjaannya (Schaufeli et al., 2002)
  • ·       Absorbtion karyawan tersebut suka dengan pekerjaannya sampai lupa dengan waktu dan sulit melepaskan diri dari pekerjaannya (Schaufeli et al., 2002)


Hubungan antara Pschology Capital dengan Work Engagement adalah PsyCap dapat meningkatkan Work Engagement serta meningkatkan kepuasan kerja dan kesejahteraan akibat hubungan positif antara PsyCap dengan Work Engagement dapat meningkatkan perkembangan sumber daya manusia di suatu perusahaan. sehingga Dapat di simpulkan bahwa dengan meningkatnya PsyCap dapat meningkatkan motivasi dan ketetekunan untuk mengerahkan segala usaha untuk mencapai tujuan bahkan saat masalah muncul dihadapanya dan memiliki pandangan postif akan masa depan yang akan dihadapinya  suatu saat nanti.

Refrensi

Tabaziba, K.R. (2015). Pschological Capital and Work Engagement: An Investigation Into Mediating Effect of Mindfullness. (Doctoral thesis, Universitiy of Cape Town, 2015). Retrived From https://open.uct.ac.za/bitstream/handle/11427/13793/thesis_com_2015_tabaziba_kr.pdf?sequence=1

Rabu, 20 September 2017

Pentingnya Psychological capital Di Sebuah Perusahaan


Setiap perusahaan pasti memiliki suatu permasalahan yang berbeda-beda seperti masalah keuangan, menajement, dan pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia). Permasalahan yang sering terjadi di suatu perusahaan yaitu masalah pada pengelolaan sumber daya manusianya salah satunya adalah bagaimana caranya agar karyawan dapat bekerja secara efisien, dan membuat karyawan tersebut menjadi lebih positif maka  peran dari psikologi capital adalah  membantu karyawan agar dapat bekerja secara efisien serta dapat meningkatkan nilai positif dari karyawan tersebut.
Psikologi kaipital memiliki 4 aspek yang ada pada diri manusia, yaitu:
  1.  Hope: focus tehadap suatu tujuan, dan memfokuskan kembali jalan untuk dapat mencapi tujuan tersebut
  2.  Optimism: memiliki orientasi positif untuk berprestasi
  3. Self-efficacy: memiliki kepercayaan diri untuk mendapatkan dan menyelesaikan secara baik tugas yang menantang
  4. Resilience: mampu untuk tahan dan dapat mengatasi permasalahan atau kesulitan pada saat menjalankan tugas
Masalah lain yang dihadapi suatu perusahaan adalah tidak menguasai cara untuk  menganalisa tingkah laku setiap karyawan sehingga depskripsi kerja tidak mencapai pada tujuan organisasi sehingga pentingnya Organizational Citizenship Behavior (OCB). Definisi dari Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah ilmu yang mempelajari dampak yang dimiliki individu, kelompok, dan struktur perilaku dalam suatu organisasi. Organizational Citizenship Behavior (OCB) memiliki lima dimensi yaitu altruism, civic virtue, sportsmanship, generalize compliance, dan cortesy (Organ, 1988; Podsakoff, MacKenzie, Paine, & Bachrach, 2000). Sehingga perusahaan yang menguasai OCB mereka dapat dampak yang ditimbulkan dari kepribadian setiap karyawan terhadap struktur organisasi.
Seiring dengan ketatnya persaingan membuat karyawan menghilangkan rasa kehangatan sesama karyawan sehingga Emotional intelligence (EI) berperan sangat penting disuatu perusahaan agar karyawan dapat mengontrol agar tidak mengangau struktur organisasi yang sedang berjalan. Menurut Goleman (1995) EI adalah cara untuk mengetahui perasaan apa yang anda rasakan serta mengontrol perilaku tersebut tanpa membuat anda tenggelam, serta memotivasi anda untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan kreatif serta merasakan apa yang orang lain rasakan. karyawan yang memiliki EI yang tinggi mendapatkan peran yang lebih sehingga dapat memuaskan para konsumen (Abraham, 2003).
Kenapa psikologi capital menjadi suatu hal yang penting bagi perusahaan ? karena psikologi capital, OCB, dan EI memiliki hubungan yang sangat dekat. sehingga Dapat dikatakan bahwa psikologi capital sangat terkait erat  dengan EI dan dapat mempengaruhi OCB. Karyawan yang memiliki psikologi capital yang tinggi cenderung memiliki OCB. Penelitian George and Brief (1992) menemukan bahwa karyawan yang memiliki psikologi positif akan langsung untuk membantu rekan kerja dan menyelesaikannya bersama-sama. EI sendiri memiliki hubungan yang signifikan dengan psikologi capital dan OCB. Penelitian Staw, Sutton, dan Pelled (1994) dan Eljadi (2007) menemukan bahwa karyawan yang cerdas secara emosional serta memiliki stabilitas psikologis bukan hanya memahami perasaan diri sendiri tetapi memahami perasaan orang lain.

Refresensi
Robbins, S.P., Judge, T.A. (2013). Organizational Behavior. (15th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson

Pradhan, R.K., Jena, L.K., & Bhattacharya, P. (2016). Impact Psychologycal Capitan On Organizational Citizenship Behavior: Moderating Role of Emotional Intellegence. Cogent Bussines & management, 3(1), 1-16



Selasa, 12 September 2017

Peran psikologi dalam bisnis dan organisasi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang


Ilmu psikologi merupakan ilmu tertua yang dimana ilmu psikologi merupakan ilmu yang mempelajari jiwa dan kepribadian manusia sehingga sangat erat kaitanya dalam bisnis dan organisasi yang menjadikan manusia sebagai sumber dayanya. Sebelum tahun 1900-an industry dan perusahan tidak melihat bahwa psikologi penting dalam suatu perusahaan atau industry. Pada tahun 1908 seorang ahli psikologi yang bernama Wallter Dill Scott membuat suatu buku yang berjudut psychology of advertising buku ini betujuan agar meningkatkan efisiensi manusia dengan taktik imitasi, kompetensi dan loyalitas. Tidak hanya hanya Walter Dill Scott saja pada tahun 1913 Hugo Munstenberg membuat buku yang berjudul Psychology and Industrial Efficiency dalam buku tersebut menekankan bahwa setiap individu memiliki karakteristik berbeda pada suatu organisasi serta pengaruh budaya dan social pada suatu organisasi. Sehingga dapat disumpulkan bahwa peran psikologi pada bisnis dan organisasi melihat perilaku manusia dengan menghubungkan bidang ekonomi, manajemen , dan bisnis itu sendiri

Pasca terjadinya perang dunia ke-2 industri dan bisnis meningkat tajam dan pada saat itu peran psikologi dalam bisnis yaitu bagaimana industri atau perusahaan berusaha meningkatkan mutu dari karyawannya sehingga mereka dapat meningkatkan produktifitas pada perusahaan contohnya perusahaan mencoba apakah benar dengan menaikan gaji karyawan dapat meningkatkan produtifitas dari karyawan itu sendiri serta perusahaan melihat bagaimana sikap karyawan agar konsumen puas.

Pada saat ini peran psikologi pada bisnis yaitu bukan lagi mencari cara untuk dapat meningkatkan produktifitas pada karyawan tetapi perusahaan mencoba mencari cara agar perusahaan tersebut dapat bertahan dengan cara melihat perilaku atau kebutuhan dari konsumen serta perusahaan mencoba agar bukan hanya bermanfaat bagi konsumen saja tetapi bermanfaat bagi masyaraka di sekitar tempat lingkungan perusahaan.

Semakin maju teknologi memaksa kita terus untuk memperbarui pengetahuan kita mengenai teknologi tersebut. Semakin majunya teknologi berdampak kepada perusahaan dan industry tersebut contohnya industry dan perusahaan mulai mempertimbangkan penggunaan robot sebagai penganti parakaryawan. Dari masalah tersebut peran psikologi bagi bisnis dan industry adalah menyiapkan mental serta adaptasi bagi karyawan terhadap kemajuan teknologi tersebut.
Daftar pustaka


Ftr. (2017, Maret 15). Psikologi Industri dan Organisasi-Perkembangan Teori, Peran, dan Penjelasan. Retrived From http://dosenpsikologi.com/psikologi-industri-dan-organisasi